Jumat, 14 Maret 2014

Si Kancil dan Siput



Si Kancil dan Siput
Pada suatu hari si kancil nampak ngantuk sekali. Matanya serasa berat sekali untuk dibuka. “Aaa....rrrrgh”, si kancil nampak sesekali menguap. Karena hari itu cukup cerah, si kancil merasa rugi jika menyia-nyiakannya. Ia mulai berjalan-jalan menelusuri hutan untuk mengusir rasa kantuknya. Sampai di atas sebuah bukit, si Kancil berteriak dengan sombongnya, “Wahai penduduk hutan, akulah hewan yang paling cerdas, cerdik dan pintar di hutan ini. Tidak ada yang bisa menandingi kecerdasan dan kepintaranku”
Sambil membusungkan dadanya, si Kancil pun mulai berjalan menuruni bukit. Ketika sampai di sungai, ia bertemu dengan seekor siput. “Hai kancil !”, sapa si siput. “Kenapa kamu teriak-teriak? Apakah kamu sedang bergembira?”, tanya si siput. “Tidak, aku hanya ingin memberitahukan pada semua penghuni hutan kalau aku ini hewan yang paling cerdas, cerdik dan pintar”, jawab si kancil dengan sombongnya.
“Sombong sekali kamu Kancil, akulah hewan yang paling cerdik di hutan ini”, kata si Siput. “Hahahaha......., mana mungkin” ledek Kancil. “Untuk membuktikannya, bagaimana kalau besok pagi kita lomba lari?”, tantang si Siput. “Baiklah, aku terima tantanganmu”, jawab si Kancil. Akhirnya mereka berdua setuju untuk mengadakan perlombaan lari besok pagi.
Setelah si Kancil pergi, si siput segera mengumpulkan teman-temannya. Ia meminta tolong agar teman-temannya berbaris dan bersembunyi di jalur perlombaan, dan menjawab kalau si kancil memanggil.
Akhirnya hari yang dinanti sudah tiba, kancil dan siput pun sudah siap untuk lomba lari. “Apakah kau sudah siap untuk berlomba lari denganku”, tanya si kancil. “Tentu saja sudah, dan aku pasti menang”, jawab si siput. Kemudian si siput mempersilahkan kancil untuk berlari dahulu dan memanggilnya untuk memastikan sudah sampai mana si siput.
Kancil berjalan dengan santai, dan merasa yakin kalau dia akan menang. Setelah beberapa langkah, si kancil mencoba untuk memanggil si siput. “Siput....sudah sampai mana kamu?”, teriak si kancil. “Aku ada di depanmu!”, teriak si siput. Kancil terheran-heran, dan segera mempercepat langkahnya. Kemudian ia memanggil si siput lagi, dan si siput menjawab dengan kata yang sama.”Aku ada didepanmu!”
Akhirnya si kancil berlari, tetapi tiap ia panggil si siput, ia selalu muncul dan berkata kalau dia ada depan kancil. Keringatnya bercucuran, kakinya terasa lemas dan nafasnya tersengal-sengal.
Kancil berlari terus, sampai akhirnya dia melihat garis finish. Wajah kancil sangat gembira sekali, karena waktu dia memanggil siput, sudah tidak ada jawaban lagi. Kancil merasa bahwa dialah pemenang dari perlombaan lari itu.

Betapa terkejutnya si kancil, karena dia melihat si siput sudah duduk di batu dekat garis finish. “Hai kancil, kenapa kamu lama sekali? Aku sudah sampai dari tadi!”, teriak si siput. Dengan menundukkan kepala, si kancil menghampiri si siput dan mengakui kekalahannya. “Makanya jangan sombong, kamu memang cerdik dan pandai, tetapi kamu bukanlah yang terpandai dan cerdik”, kata si siput. “Iya, maafkan aku siput, aku tidak akan sombong lagi”, kata si kancil.


…..Tamat…..
















The hare and Snails
One day the deer seem sleepy . His eyes seemed heavy to open . " Aaa .... rrrrgh " , the occasional deer seem to evaporate . Because the day was quite sunny , the deer feel loss if you waste it . He started walking through the forest to ward off sleepiness . Up on top of a hill , the Kancil arrogantly shouted , "O forest dwellers , I am the most intelligent animals , ingenious and clever in the woods . Nothing can match the intelligence and my intelligence "
As he puffed out his chest , the Kancil started running down the hill .
When they reached the river , he met with a snail . " Hi deer ! " , Greeted the snail ." Why are you screaming ? Are you cheering ? " , Asked the snail . "No , I just want to tell all the inhabitants of the forest animals when I was the most intelligent , ingenious and clever " , said the deer arrogantly .
" Arrogant once you hare , I'm the smartest animals in the woods ," said the Snail . " Hahahaha ....... , which may be " teased hare . " To prove it , what if tomorrow morning we race ? " , Challenged the Snail . " Well , I accept your challenge ," said the hare . Finally they both agreed to hold a race tomorrow morning .
After the hare go , the snail soon gather his friends . He asked for help to his friends lined up and hide in the race track , and answer the call when the deer .Finally, the awaited day has arrived , deer and snails are ready to race . " Are you ready to run a race with me " , asked the deer . " Of course I have , and I will win " , said the snail . Then the deer slug invited to run first and had to call her to make sure where the snails .Hare running relaxed , and felt confident that she would win . After a few steps , the deer tried to call the slug . " Snail .... Where you been up to ? " , Cried the deer . " I was there in front of you ! " , Cried the snail .
Hare astonished , and soon quickened his pace . Then he called again the snail , and the snail replied with the same words ." I was in front of you ! "
Finally, the deer ran , but he was calling each of the snails, he always comes up and says that he is ahead deer . Sweat profusely , his legs felt weak and panting breath .
Hare ran continuously , until finally he saw the finish line . Deer face very excited , because when he called slugs , had no answer again . Hare felt that he was the winner of the race .
 What a surprise the deer , because he saw the snails have been sitting on a rock near the finish line . "O deer , why are you so long ? I've been up from earlier ! " , Cried the snail . With bowed heads , the deer approached the snail and admit defeat . " So do not get cocky , you're so smart and clever , but you are not the most intelligent and ingenious ," said the snail . "Yes , I'm sorry snails , I would not arrogant again " , said the deer .
…..The end…..

Burung Elang dan Burung Gagak



Burung Elang dan Burung Gagak

Seekor burung Elang, dengan kekuatan sayapnya menyambar seekor anak domba dengan kukunya dan membawanya pergi jauh ke angkasa, seekor burung gagak melihat kejadian itu, dan terbayang dibenaknya sebuah gagasan bahwa dia mempunyai kekuatan untuk melakukan hal yang sama dengan burung elang tersebut. Dan dengan membuka sayapnya lebar-lebar kemudian terbang di udara dengan galaknya, dia meluncur kebawah dan dengan cepat menghamtam bagian punggung seekor domba, tetapi ketika dia mencoba untuk terbang kembali dia baru sadar kalau dia tidak bisa mengangkat domba tersebut dan dia tidak dapat terbang lagi karena kukunya telah terjerat pada bulu domba, walaupun dia mencoba untuk melepaskan dirinya, jeratan itu terlalu sulit untuk dilepaskan sehingga dia merasa putus ada dan tetap tinggal di atas punggung domba tersebut.
Seorang pengembala yang melihat burung gagak itu mengibas-ngibaskan sayapnya berusaha melepaskan diri, pengembala itu menyadari apa yang telah terjadi, pengembala itupun berlari dan segera menangkap burung itu lalu mengikat dan mengurung burung gagak tersebut, setelah menjelang sore dia memberikan burung gagak itu kepada anak-anaknya di rumah untuk bermain.
"Betapa lucunya burung ini!" mereka sambil tertawa, "ini disebut burung apa ayah?"
"itu burung gagak, anakku. Tetapi jika kamu bertanya kepadanya, dia akan menjawab dia adalah dia seekor burung elang."
Jangan biarkan kesombonganmu membuat kamu lupa diri akan kemampuanmu

Si Kancil Yang Cerdik



Si Kancil Yang Cerdik

Suatu hari si kancil yang cerdik datang kepada si babi, "Hai kancil dari mana saja kamu, sudah lama aku tidak berjumpa dengan mu, cil" kata si babi melihat kancil datang. "Aku baru saja berguru ilmu bela diri dan ingin membebaskan hutan ini dari penguasa yang jahat sepertimu" kata kancil kepada si babi.
Si babi langsung naik pitam, "Hai kancil, lancang sekali bicara mu, apa kau sudah bosan hidup di hutan ini?" hardik si babi kepada si kancil."Kenapa sih kamu menjadi sombong seperti itu, bukannya setiap binatang di dalam hutan ini semua sama, dan tidak ada yang bisa menjadi penguasa jahat" kata kancil menantang. "Kurang ajar kamu kancil, berani sekali kamu, apa kamu ingin menantang aku ya?, tidak kah kamu lihat pohon saja bisa tumbang oleh taring ku" si babi semakin geram".
"Ya, memang aku ingin menantang kamu, hai babi yang sombong" jawab si kancil yang cerdik dengan mantab. "Dan dengan syarat jika aku menang maka kau tidak boleh ada di hutan ini" lanjut si kancil kepada si babi.
"Baiklah, esok aku tunggu kamu di tanah lapang di tengah hutan ini" si babi menerima tantangan si kancil yang cerdik tadi. Akhirnya berita pertarungan antara si babi dan si kancil yang cerdik tersebar luas di jejaring sosial antara hewan di hutan belantara tersebut. Semua hewan bersiap-siap menyaksikan pertarungan yang hebat antara dua makhluk tersebut.
Keesokan harinya si kancil sudah bersiap-siap dahulu. Ternyata kancil memang hewan yang cerdik, semalam setelah ia pulang dari "istana" si babi, kancil mempersiapkan senjata andalannya yaitu berupa sebuah topeng yang terbuat dari baja tipis yang di bentuk sedemikan rupa menyerupai muka si kancil, sehingga tak satupun binatang di hutan yang tahu kalau si kancil memakai topeng dari pelat baja tipis stainless steel setebal 2 milimeter.
Akhirnya pertarungan seru dimulai, si babi langsung menerjang muka si kancil. Awalnya si kancil yang cerdik terjatuh akibat dorongan taring si babi yang kuat, namun dengan gesitnya kancil langsung bangkit dan kembali berdiri untuk menantang dan menunggu terjangan taring babi berikutnya.
Si babi akhirnya kelelahan, berulang kali ia mencoba menusukkan taringnya ke wajah si kancil, namun berulang juga taringnya terluka dan akhirnya taring tersebut menjadi patah. Si babi merasa kancil sangat kuat hari itu dan akhirnya si babi menyerah. Dan terakhir sesuai dengan perjanjian maka si babi meninggalkan hutan itu. Serta merta para penghuni hutan bersorak-sorai bersuka cita menyambut kemenangan si kancil yang cerdik itu.

Sikancil Mencuri Mentimun



Si Kancil Mencuri Timun
Suatu hari di tengah hutan yang sejuk pemandangan serta alam yang masih alami. Pohon bergoyang akibat angin sepoi-sepoi yang menerpa dedaunan. Burung-burung berkicau dengan indah, semua hewan yang ada di hutan tersebut merasakan kenyamanan suasana hutan pada siang terik hari itu.
Rupanya kancil sangat berbahagia tinggal didalam hutan yang sangat rimbun dan tenang.
Namun tiba-tiba terdengar suara bergemuruh datang menghampiri tempat dimana si kancil istirahat.
"Kebakaran....kebakaran...!" Teriak beberapa anggota hutan yang berlari pontang panting menuju arah si kancil yang sedang beristirahat. "Ayo cil, lari ..selamatkan dirimu, ada kebakaran hebat di ujung hutan sebelah sana". teriak si gajah yang lari pontang-panting sambil disusul oleh harimau, monyet, angsa serta hewan-hewan hutan lainnya.
Si kancil yang sedang santai, langsung bangkit dan berlari bersama sama hewan hutan lainnya. Si kancil berlari diantara anggota hewan hutan lainnya untuk segera menjauh dari terjangan api yang membakar hutan. Setelah jauh berlari, si kancil dan hewan lainnya terlihat sangat letih sekali. Merekapun berhenti dan mencari tempat untuk beristirahat.
Setelah lama beristirahat, si kancil merasa sangat kelaparan dan ingin sekali menyantap timun pak petani yang sering kancil curi di ladang pak tani. Dan ohh ternyata hewan-hewan hutan tersebut berlari menuju arah ladang timun yang juga milik petani.
"Wah sungguh beruntung aku, ternyata aku sudah dekat dengan ladang timun milik pak tani yang lain..hmm ..kali ini mungkin timun-nya besar-besar dan enak semua barangkali" kembali niat buruk kancil mencuri timun milik pak tani terbersit di benaknya.
Si kancil teringat timun milik pak petani yang sering ia curi dan ia selalu lolos dari jebakan yang dipasang oleh pak petani di kebun timun miliknya di desa sebelah hutan sana.
Nah kali ini kembali si kancil mencuri timun petani, karena saking laparnya akibat berlari-lari menjauh dari api yang membakar hutan tadi. Sementara teman-temanya membubarkan diri dan kembali setelah hutan bebas dari kobaran api, tinggal si
kancil yang masih membayangkan nikmatnya timun pak petani yang besar-besar tadi.
Tiba-tiba dari belakang kancil ada seekor monyet yang menegur kancil agar kembali ke dalam hutan, sebab api sudah reda akibat hujan yang turun sore itu. "Ayo cil kita balik ke dalam hutan, kita bereskan rumah kita di sana", ajak si monyet kepada si kancil.
"Tidak ah, nyet,..aku mau disini saja, aku mau menjaga hutan dari para pencuri kayu" kata si kancil sok pahlawan.
Akhirnya si monyet meninggalkan si kancil sendiri di tepi kebun timun tersebut. "Asyik, si monyet pergi, pasti dia mau tahu apa yang akan kukerjakan malam ini, yah..aku mau pesta timun malam ini..horee..", si kancil kegirangan malam ini ia akan mencuri timun pak tani dan makan sendirian. Dan mulailah si kancil mencuri timun pak tani dengan bebasnya.
Keesokan harinya betapa kagetnya pak tani melihat ladang timunnya berantakan dan semua timunnya ludes serta banyak ceceran timun yang tidak habis dimakan. "Arrrghh... kenapa lagi ini, kemarin kebun ku di atas bukit sana di curi oleh kancil, sekarang kebunku di sebelah hutan ada lagi yang mencurinya....hhh apakah kancil itu juga yang mencuri timunku..?" kesal pak tani.
Pak tani pun tidak kehilangan akal, ia memasang perangkap yaitu sebuah boneka yang ia taruh di ladang timun miliknya, dan kali ini ia tambahkan beberapa lem yang sangat lengket disekitar boneka tersebut dan Voaaallaa..! keesokan harinya si kancil pun tertangkap menempel pada si boneka tersebut.
"Hahaahhahaa.....kancil..kancil....memang kamu binatang yang cerdik, namun aku lebih cerdik daripada kau...you know?" pak tani merasa senang sekali mendapatkan seekor kancil mencuri timun miliknya semalam. Langsung ia bawa kancil ke dalam rumahnya dan ditaruh didalam kandang dan menyuruh anjingnya untuk menjaga si kancil semalaman, karena keesokan harinya sikancil akan menjadi sate dan opor oleh pak tani.
Memang kancil licik dan pintar, dengan akal siasatnya ia berhasil menipu anjing milik pak tani dan berhasil lolos dari perangkap maut tersebut. Awalnya si anjing tidak tahu kalau kancil mencuri timun milik pak tani. "Hei anjing cakep, tahukah kamu, malam ini aku diajak berpesta dengan pak tani, tapi aku males sekali untuk pergi bersamanya", kata kancil dari balik kerangkeng.
Si anjing awalnya cuek namun karena pujian kancil ia menjawabnya. "kenapa kamu tidak mau cil?, bukannya enak diajak pesta?" kata si anjing. "Aku sih mau aja pergi tapi kandang ini sangat bagus sekali untuk ditinggalkan, mau kah kau menjaganya selagi aku pergi?, ku tahu kau anjing yang pintar dan baik hati" kata si kancil memelas dan memuji si anjing.
Akhirnya si anjing bersedia menggantikan si kancil untuk masuk kedalam kerangkeng, dan akhirnya si kancil pun lolos dari jeratan maut pak tani pemilik ladang timun. Si kancil pun senang dan keluar dari rumah pak tani dengan lenggang kangkung.