Si Kancil Yang Cerdik
Suatu hari si kancil yang cerdik datang kepada si babi,
"Hai kancil dari mana saja kamu, sudah lama aku tidak berjumpa dengan mu,
cil" kata si babi melihat kancil datang. "Aku baru saja berguru ilmu
bela diri dan ingin membebaskan hutan ini dari penguasa yang jahat
sepertimu" kata kancil kepada si babi.
Si babi langsung naik pitam, "Hai kancil, lancang
sekali bicara mu, apa kau sudah bosan hidup di hutan ini?" hardik si babi
kepada si kancil."Kenapa sih kamu menjadi sombong seperti itu, bukannya
setiap binatang di dalam hutan ini semua sama, dan tidak ada yang bisa menjadi
penguasa jahat" kata kancil menantang. "Kurang ajar kamu kancil,
berani sekali kamu, apa kamu ingin menantang aku ya?, tidak kah kamu lihat
pohon saja bisa tumbang oleh taring ku" si babi semakin geram".
"Ya, memang aku ingin menantang kamu, hai babi yang
sombong" jawab si kancil yang cerdik dengan mantab. "Dan dengan
syarat jika aku menang maka kau tidak boleh ada di hutan ini" lanjut si
kancil kepada si babi.
"Baiklah, esok aku tunggu kamu di tanah lapang di
tengah hutan ini" si babi menerima tantangan si kancil yang cerdik tadi.
Akhirnya berita pertarungan antara si babi dan si kancil yang cerdik tersebar luas di jejaring sosial antara hewan di hutan
belantara tersebut. Semua hewan bersiap-siap menyaksikan pertarungan yang hebat
antara dua makhluk tersebut.
Keesokan harinya si kancil sudah bersiap-siap dahulu.
Ternyata kancil memang hewan yang cerdik, semalam setelah ia pulang dari
"istana" si babi, kancil mempersiapkan senjata andalannya yaitu
berupa sebuah topeng yang terbuat dari baja tipis yang di bentuk sedemikan rupa
menyerupai muka si kancil, sehingga tak satupun binatang di hutan yang tahu kalau
si kancil memakai topeng dari pelat baja tipis stainless steel setebal 2
milimeter.
Akhirnya pertarungan seru dimulai, si babi langsung
menerjang muka
si kancil. Awalnya si kancil yang cerdik
terjatuh akibat dorongan taring si babi yang kuat, namun dengan gesitnya kancil
langsung bangkit dan kembali berdiri untuk menantang dan menunggu terjangan
taring babi berikutnya.
Si babi akhirnya kelelahan, berulang kali ia mencoba
menusukkan taringnya ke wajah si kancil, namun berulang juga taringnya terluka
dan akhirnya taring tersebut menjadi patah. Si babi merasa kancil sangat kuat
hari itu dan akhirnya si babi menyerah. Dan terakhir sesuai dengan perjanjian
maka si babi meninggalkan hutan itu. Serta merta para penghuni hutan bersorak-sorai
bersuka cita menyambut kemenangan si
kancil yang cerdik itu.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar